IPK Rendah

 



Suatu hari ada seorang mahasiswa bertanya kepada Dosen, mengapa ia mendapatkan nilai C. Padahal selalu hadir dalam kelas, selalu mengerjakan tugas, sering duduk didepan, hingga mengikuti UTS dan UAS.

Dosen itu pun menjawab :

Tanda-tanda akhir zaman kali ya, ada mahasiswa protes pada saya gara-gara saya kasih nilai C. Protes karena merasa selalu masuk kelas, selalu mengumpulkan tugas, dan mengikuti Ujian UTS dan UAS.

Bagi Dosen, memberi nilai A atau B itu gampang, tapi nantinya akan jadi beban jika ternyata kemampuan mahasiswa-mahasiswi tidak sesuai antara nilai di atas kertas dengan keilmuannya. Bagaimana kita mempertanggungjawabkan nilai yang begitu bombastis ketika memasuki dunia kerja.

Memberi nilai A bukan karena penghargaan, tapi sebagai pecutan bagi mahasiswa, Nilaimu sebagus itu kamu bisa apa ???. Beda Dosen beda kebijakan. saya gak bisa memberi nilai seragam, harus ada bedanya antara mahasiswa cerdas, kreatif, dan rajin, dengan mahasiswa yang hanya rajin tapi gak cerdas apalagi kreatif.

Dulu saat kuliah S1, saya pernah dapat nilai D. Padahal saya selalu masuk, tapi memang tugas-tugas dikerjakan alakadarnya dan ujian gak belajar sama sekali, karena sibuk Organisasi. Saat itu saya termasuk mahasiswa rajin tapi gak cerdas apalagi kreatif. Wajar dapat nilai D.

Sakit hati memang dapat nilai jelek, tapi itu yang harus saya telan dan saya gak berani protes ke Dosen, cuma bisa huhuhuhu (baca:mewek) di Kosan. Ketika saya dapat kesempatan melanjutkan S2. Dua semester beruntun nilai saya A semua, otomatis IPK 4,0. Di akhir masa kuliah ada nilai B tapi cuma satu, puncaknya nama saya disebut sebagai lulusan terbaik di upacara Yudisium.

Kalau ada temen yang bilang hebat ya nilaimu bagus, saya selalu jawab ,"profesor saya ngantuk waktu nyatet nilai saya, niatnya ngasih B atau C malah kepencet A". Saya juga ingin protes ke Dosen saya yang bergelar Doktor, Ph.D, atau profesor. Kenapa ngasih nilai A semua, cuma satu B-nya. Saya ingin protes karena merasa gak layak, saya merasa bodoh, gak kuat nanggung beban seberat itu.

Pertanyaan yang baik itu bukan berapa nilaimu, tapi apa skilmu ??? Nilainya bagus tapi gvlok (baca:gobok), mending nilai biasa-biasa tapi skilnya luar biasa. Pendidikan di perguruan tinggi harus mengutamakan kemampuan, keilmuan, keahlian, bukan cuma membanggakan nilai. Saat ini lebih marak minum rasa jeruk dibandingkan air jeruk beneran, makan rasa sapi dibandingkan daging sapi sungguhan.

Jangan sampai kampus-kampus tempat mencetak agen of change malah ikutan industri makanan dan minuman. Judulnya "Sari Jeruk" tapi cuman air diwarnai dan ditambah perasan jeruk. Gelarnya aja Sarjana, tapi dituntut skil gak bisa.

oke sekian dulu yaaa...

Tahun 2023 anda harus upgred skil Anda biar bisa menghasilkan uang dari dunia digital, personal branding seperti website saya ini. segera hubungi dengan Click To Chat :



Lebih baru Lebih lama